Wednesday, March 28, 2007

Bikin Komunitas Blogger Denpasar

Sebenarnya udah lama pertanyaan -atau kegelisahan- ini muncul. Kenapa ya aku kok gak pernah denger ada Komunitas Blogger di Bali, atau setidaknya di Denpasar? Aku cari berkali-kali di blogger atau google juga ga ketemu. Asumsiku: memang belum ada komunitas blogger di Denpasar.

Padahal komunitas blogger di kota lain begitu hidup. Bandung dengan Bandung Blog Village, Jogja dengan Angkringan, Semarang dengan Loenpia, dan seterusnya. Mereka bisa saling mendukung. Dan yang paling penting adalah bisa menyebarluaskan gagasan ttg blog ke orang lain. Bagiku sih itu bagian dari demokratisasi melalui internet.

Lalu ide untuk bikin komunitas itu nongol lagi minggu-minggu ini. Awalnya sih setelah baca Time edisi akhir tahun lalu. Media portal personal semacam blogger, myspace, youtube, dst ternyata telah mengubah dunia. Aku baca juga tabloid Kontan edisi minggu lalu tentang komunitas blogger di kota lain. Lalu kenapa di Bali begitu sunyi?

Dua hari ini aku surfing lagi. Cari-cari blogger di Denpasar. Yang sudah aku kenal dan akrab dari dulu sih pasti si nyempluk.blogspot.com. Juga blog Jun, teman wartawan The Jakarta Post, di jiwamerdeka.blogspot.com dan punya Marlowe di electronpost.blogspot.com. Setauku Ebo Bog-Bog juga punya tapi aku lupa alamat blognya. Ada pula telagabening.blogspot.com, blog.bukukita.com/user/penabali (ini punya Didik wartawan Radar Bali). Pernah pula aku liat juga ceng.blogspot.com dan somebali2love.blogspot.com punya Kang Ayip Matamera.

Hari ini aku dapat ada herman13.blogspot.com, ex3me.org, dan gleamland.web.id. Ada thelastpopok.blogspot.com, kabarpositif.blogspot.com, dan liverpulet.blogspot.com. Intinya makin banyak deh blogger di Bali.

Kalau udah begitu banyak, kenapa ya kok belum ada komunitasnya? Bukan utk gagah2an. Tapi untuk makin membuat orang lain sadar bahwa blog itu begitu mengasyikkan. Mungkin memang harus dimulai ngomporin biar segera ada komunitas itu..

Monday, March 26, 2007

Garingnya Perayaan Ultah Akademika

Ketika berangkat dari rumah, aku terlalu banyak berharap. Aku bayangin akan banyak teman alumni Akademika yang dateng malam itu. Akademika, pers mahasiswa tempat aku belajar jurnalisme pertama kali sekaligus tempat yang mengubahku, merayakan ulang taun ke-24 Sabtu malam kemarin. Sebagai alumni yg baik dan benar –he.he- aku niat banget datang ke aka, gitu sebutan kami untuk Akademika, malam itu.

Padahal sebenarnya ada tiga alasan untuk tidak hadir. Pertama aku tiba-tiba sakit. Badan agak demam. Hidung ngocor. Mungkin karena Jumat kemarin kehujanan terus malemnya nglembur ngetik laporan riset media sampai pukul setengah dua pagi. Udah gitu baru bisa tidur sekitar pukul tiga dan bangun pukul tujuh. Jadi ya klop: kehujanan, nglembur, kurang tidur. Seperti biasa, badan langsung drop.

Alasan kedua, sakit itu yang aku pakai alasan untuk gak dateng jumpa pers pameran lukisan di Sector Bar. Padahal Mbak Jeany yang ngundang sampai nelpon dua kali untuk ngasih tahu. Pas ditelpon lagi aku bilang ga bisa dateng karena sakit. Eh, masa tadi alasan sakit ga bisa ke jumpa pers tapi bisa jalan malam-malam.

Ketiga, di rumah lagi ada Bodrek, teman yang lagi intens ngobrol soal rencana bikin yayasan. Tumben-tumben dia ke rumah. Soalnya meski orang Kintamani, dia tinggal di Yogya. Jadi ya seharusnya malam itu aku ngobrol sama dia saja.

But, karena udah kadung niat dari awal pengen hadir di perayaan ultah aka, aku tetep aja datang. Aku bayangin ketemu temen-temen, ngobrol keluarga, pekerjaan, romantisme sambil makan nasi tumpeng. Niat lainnya karena kami pengen ngajak Bani anak kami untuk tahu tempat di mana dulu Ayah Bundanya ketemu pertama kali. :) Maka, aku, Bani, dan Bunda pun berangkat ke aka sekitar pukul tujuh malam itu dengan penuh harap.

Kirain sih udah banyak yang dateng. Eh, ternyata kutu kupret! Sepi. Sing ade apa, De. Alumni yang kulihat pertama hanya Ira, teman satu angkatan. Di remang lampu depan aka, Ira keliatan tambah cantik aja duduk di bangku itu. He.he.

Ada pula Cak Nur, yang ternyata udah nganten Desember lalu. Teman satu angkatan ini datang sama istrinya. Pas aku majukan tangan untuk salaman dan kenalan, eh, istrinya hanya menungkup tangan di depan hidung. Tidak mau salaman! Yowis.. Meski bagiku dia tidak simpatik, toh aku harus toleransi dengan sikap itu. Masalahnya, ternyata Cak Nur pun sudah siap di atas motornya. “Mau sholat,” katanya di tengah suara adzan dari masjid tak jauh dari kampus. Setelah itu dia pun pergi sama istrinya. Ah, Cak Nur tetap seperti dulu. Sibuk cari surga. He.he.

Jadi hanya ada Ira yang masih duduk di remang-remang dan Cak Nur yang bersiap sholat Isya. Di dalam ada Artha, senior yang udah jadi anggota KPU Bali. Wis. Itu aja alumni yang ada malam itu. Pas acara udah jalan sekitar pukul delapan baru ada Nining dan Kamadi. Keduanya tak tahu kalau dikerjain. Pas baru dateng langsung disuruh sambutan. Eh, keduanya mau. Omongannya serius banget lagi. Jadi tambah garinglah malam itu.

Paling garing sih setelah itu. Tidak ada acara apa-apa. Hanya omongan pemimpin umum aka lalu potong tumpeng. Aduh.. Bukan jek sok senior, tapi mosok sih alumni udah datang tapi ga dimanfaatin. Ngobrol apa kek yg kira-kira bisa ngakrabin antara alumni dengan anggota aka saat ini.

Jadi selama acara itu ya alumni di pojok: aku, lode –mantan sekretaris umum yg juga istriku-, ira, dan kamadi sibuk ngobrol sesama kami. Kamadi jadi sales di carefour, Ira di cargo –apa gitu- di Semarang dan mau nganten bulan depan.

Makanya setelah makan nasi kuning tumpeng yang agak asin itu, kami pun cabut. Sejak awal sih memang aku udah mikir sejam aja di sana. Gak perlu lama-lama. Tapi karena kegaringan itu, ya jelas saja kami gak lama.. Ya, ngapain juga lama-lama di sana. Toh, meski berada di satu tempat, kami ga nyambung sama sekali dengan anggota. [***]

Saturday, March 24, 2007

Akhirnya Aku Jadi Korban Banjir Juga

Hujan mengguyur deras ketika aku cabut dari akademika kemarin sore. Aku udah menunggu sekitar setengah jam setelah kursus feature itu selesai. Namun hujan tak juga berhenti. Hampir setengah enam ketika aku putuskan cabut saja dari akademika. Aku toh tinggal pakai jas hujan lalu naiki motor sampai rumah.

Menurutku hujan tadi memang kenceng banget. Tapi itu kan juga sering terjadi. Jadi ya aku ga terlalu mikir.

Tapi pas belok kanan dari lampu merah Matahari ke arah Renon aku mulai merasa ada yang gak beres. Tumben-tumben macet di situ. Udah gitu beberapa pengendara motor pada milih balik. Karena kupikir cuma macet biasa, aku tetep aja melaju. Eh, ternyata banjir di depan kantor Mahkamah Militer Denpasar. Tingginya kira-kira sampai lutut.

Aku ragu-ragu. Maju terus apa balik kayak yg lain ya. Ah, nanggung. Maju aja. Terjang aja airnya. Toh cuma selutut. Aku maju dengan Legendaku. Semula lancar. Tapi pas udah agak masuk air, grek-grek, motorku mulai tersendat-sendat kayak mau mati. Aku tarik gas. Sempat hidup bentar. Lalu mati. Persis di tengah banjir.

Ya ga ada pilihan lain. Aku terjun ke air setinggi lutut itu. Mobil di belakang hampir aja nabrak aku. Di tengah guyuran hujan itu, dengn pakai jas hujan, aku dorong motor. Ah, akhirnya aku jadi korban banjir juga kayak di TV-TV. He.he.

Pas sampai di tempat yang tidak kebanjiran, ternyata ada sekitar lima orang bernasib sama. Motor mereka mati karena nekat melewati banjir itu. Mereka lagi otak-atik busi motor di pinggir jalan. Aku kepikiran melakukan hal yang sama. Tapi aku coba injek dulu starter pakai kaki. Satu. Dua. Tiga. Eh, motorku hidup. Syukurlah.. [***]

Thursday, March 22, 2007

Ketika Anggota DPR Niru Tukul

“Sekalian aja celana dalamnya dianggarkan negara,” kata istriku sinis pagi ini.

Komentar itu muncul begitu saja ketika kami membaca di koran bahwa anggota DPR minta laptop. Menurut koran pagi itu 550 anggota DPR masing-masing minta diberi laptop. Tiap satu laptop seharga Rp 22 juta. Total habis duit Rp 13,9 miliar. -Aku tidak ngitung sendiri apakah Rp 22 juta x 550 itu memang senilai Rp 13,9 miliar. Soale belum ngitung udah nek duluan. Pengen muntah. :))-

Dulu aku ikut milih pas Pemilu 2004. Jadi ya mereka juga wakilku dong meski aku ga tau pilihanku jadi anggoa DPR apa tidak. Alasanku waktu itu sederhana: diam toh tidak menjawab masalah negara ini. Tiap pilihan punya konsekuensi, termasuk gagal. Namun harapan itu jauh panggang dari api. Makin hari makin banyak hal yang gak beres dengan DPR kita.

Paling gres ya soal laptop itu. Ini usul yang bener-bener ngawur. Alasan mereka minta laptop untuk meningkatkan kinerja. Alamak. Dari mana logika itu. Bener-bener sableng!

Pertama, laptop hanya pemborosan. Saat ini di ruangan kerja tiap anggota DPR yang tidak mulia itu sudah ada komputer pribadi. Itu pun aku yakin tidak sepenuhnya dipake mereka. Gimana mau make, orang mereka lebih sering bolos dari pada masuk kantor.

Kedua, biaya pembelian laptop dibebankan pada negara. Ini lebih aneh lagi. Gaji mereka kan rata-rata di atas Rp 10 juta per bulan. Masa sih laptop saja harus dibeliin negara. Kalau memang mereka mikir kan seharusnya sebagian pendapatan itu disisihkan untuk mendukung kerja mereka. Bukan hanya mentang-mentang ada yang bisa membiayai lalu semuanya disuruh membiayai orang lain.

Ketiga, masa biaya pembelian laptop sampe Rp 22 juta per biji. Ini paling ngawur. Jelas-jelas aku baca di koran dengan duit Rp 5 juta aja udah dapet. Ya lima juta mungkin terlalu murah. Okelah. Cari yang seharga dua kali lipat dari itu: sepuluh juta. Aku baca iklan di koran ada laptop harga Rp 8,9 juta. Dengan harga segitu udah dapat merk HP dengan speisifikasi prosesor AMD turion, hard disk 120 GB, RAM 512, bluetooth, 5 in card reader, DVD combo, dst. Lalu kenapa sampai minta per laptop Rp 22 juta. Spek segitu jelas lebih dari cukup. Muntah-muntah malah. :)) Lalu mau beli laptop yg kayak apa dengan harga Rp 22 juta. Emang mau dipake nyimpen film bokep mereka kayak Yahya Zaini dan Maria Eva kemarin?

Karena logika anggota DPR yg gak beres itu, maka aku juga mikir dengan logika ngawur juga. Jangan-jangan mereka minta laptop hanya karena ngiri pada Tukul. Soalnya meski ga bisa make, Tukul bisa jadi tokoh yg populer dan identik karena laptopnya. Mungkin anggota DPR malu. Kalau Tukul –yang dianggap ndeso, dan dia dengan pintar memanfaatkan anggapan orang bahwa dia ndeso itu- saja bisa pakai laptop, masak anggota DPR tidak. Biar gak kalah keren, maka para anggota DPR itu kembali ke... LAPTOP! [***]

Wednesday, March 21, 2007

Kehangatan Keluarga di Taman 65

Kue ulang taun di meja kecil itu dikelilingi sekitar 30 orang. Umur mereka beragam. Ada yang masih digendong, ada juga yang berjalan tertatih karena umur yang uzur. Mereka semua bergembira. Ada yang berteriak, "Cium. Cium. Cium.." Lalu semua mengikuti teriakan itu. Dengan malu-malu, ibu yang merayakan ulang tahun ke-50 malam itu mencium pipi suaminya. Semua tergelak. Tertawa.

Sebelum kue dipotong ada yang berbicara. Ada sanjungan. Ada pujian. Ada terima kasih.

Lilin sudah menyala sekitar 15 menit sebelumnya. Sebelum lilin makin meredup, lagu ulang tahun dinyanyikan bersama. Ada lima orang yang ulang tahunnya dirayakan karena lahir pada Maret ini. Satu per satu mereka memotong kue. Setelah itu mereka makan nasi kuning dengan mie goreng, telur rebus, dan ayam panggang yang masih hangat karena baru selesai dipanggang.

Selasa malam kemarin aku tak sengaja ke griya -semacam kumpulan rumah untuk bangsawan di Bali- tersebut. Awalnya karena janjian dengan teman untuk ngomong soal yayasan yang akan kami buat. Tapi teman itu ngajak ketemu di griya tersebut. Kebetulan pas ada Ngembak Geni -sehari setelah Nyepi- itu juga ada pesta ultah di griya tersebut. Aku ikut menikmati makan malam itu, juga kehangatan mereka.

Malam itu -sebatas yang aku lihat- semua bergembira. Padahal keluarga besar itu pernah melewati kepahitan yang luar biasa. Mereka pernah mengalami konflik karena ideologi partai. Salah satu tetua mereka hilang tak jelas di mana karena dianggap orang PKI. Setelah itu mereka hidup saling mencurigai.

Namun malam itu seperti tak ada lagi. Mungkin mereka sudah mengalami proses "rekonsiliasi" itu lama. Namun, kata temanku, perayaan malam itu adalah untuk pertama kalinya mereka semua bergembira seperti itu.

Persis di bawah meja kue ulang tahun itu tertulis semacam batu padas dengan tulisan, Taman 65. Tulisan itu untuk mengenang pahit getir yang terjadi pada 1965, masa di mana semua orang yang dianggap terlibat PKI harus dilenyapkan.

Bagi mereka kenangan itu bukan untuk dilupakan. Bukan untuk dikubur. Tapi harus diakui pernah ada. Dan jadi renungan.

Tuesday, March 20, 2007

I Nyoman Sadra Meneruskan Kesederhanaan Gandhi

-dimuat 18 Maret 2007 di Media Indonesia-

Sang Pionir,
I Nyoman Sadra Meneruskan Kesederhanaan Gandhi

Berada di Candi Dasa membuat Ashram Gandhi seperti oase. Tempat belajar agama Hindu ini dikepung hotel, bungalow, restoran, dan bar. Ashram Gandhi mengajarkan kesederhanaan ketika tempat lain menyajikan kesenangan duniawi. Penghuni Ashram Gandhi memilih beryoga, berpuja, dan berdoa ketika turis asing menikmati pantai atau sekadar bersantai di ketenangan kawasan wisata ternama di Bali timur tersebut.

Jumat tengah hari lalu misalnya empat orang duduk di balai tempat yoga di ashram yang masuk wilayah Kecamatan Manggis, Karangasem itu. Mereka menggumamkan puja dan doa dalam bahasa Sansekerta. Selesai berdoa, makan siang disajikan di balai yang sama. Menunya vegetarian. Inilah kesederhanaan yang dilakukan Ashram Gandhi Candi Dasa. Ini pula yang diteruskan pengasuh Ashram Candi Dasa saat ini I Nyoman Sadra.

Ashram Candi Dasa, berdiri sejak 1976, merupakan pusat dari dua ashram lain yaitu Ashram Gandhi Vidyapith Denpasar, berdiri sejak 1996, dan Ashram Gandhi Vidyapith Yogyakarta, berdiri sejak 1997. Tiga ashram ini didirikan Ibu Gedong Bagoes Oka. Bu Gedong, panggilannya, salah satu pendiri World on Religion and Peace serta aktif di berbagai organisasi yang mendorong dialog lintas iman.

Meski ashram identik sebagai tempat belajar agama Hindu, Ashram Gandhi Candi Dasa sebenarnya bisa jadi tempat belajar lintas iman. Orang Islam, Nasrani, Budha, bahkan tak beragama pun bisa belajar di sini. Sebab mereka mengajarkan hal universal. Tak hanya yoga mereka juga belajar pertukangan, menganyam, mengobati, menjahit, pertanian, dan kebudayaan.

Saat ini di ashram yang persis di pantai Candi Dasa itu juga ada kegiatan pendidikan Taman Kanak-kanak, Klinik, dan pengobatan tradisional. Sadra yang juga ahli akupuntur pun memberikan layanan.

Dialog lintas iman pun terus dilakukan. Tak melulu tentang agama tapi juga masalah lain termasuk HIV dan AIDS.

Bersama Interfidei Yogyakarta, I Nyoman Sadra pun terlibat dalam diskusi toleransi antar agama ke beberapa daerah konflik atau yang punya potensi konflik. Dia mempromosikan perdamaian antar-agama ke Poso, Padang, Manado, dan Lombok. “Kami bicara tentang pluralisme. Kalau kita tidak saling memahami, konflik tidak akan reda,” lanjutnya.

Sadra yang juga anggota Sarvodaya International Trust, organisasi internasional pengikut Gandhi yang berbasis di Bangalore India, itu mengasuh Ashram Gandhi Candi Dasa sejak Bu Gedong meninggal pada 2002. Sebelumnya, teman sekaligus murid senior Bu Gedong ini mengurus masalah kesehatan, pertanian, pendidikan, dan komunikasi dengan masyarakat. Dia pun ikut mendirikan dua sekolah swasta tak jauh dari ashram yaitu SMA 1 Manggis dan SMA Dharma Kerti, Karangasem.

Menurut Sadra Ashram Gandhi didirikan untuk meneladani dan menerapkan apa yang sudah dilakukan tokoh anti-kekerasan kelahiran India Mahatma Gandhi. Tiga hal utama yang diajarkan Gandhi yaitu Sad (kebenaran), Ahimsa (emoh kekerasan), dan Karuna (cinta kasih). “Semua ini bersumber dari Weda. Tapi Gandhi menerapkan dalam hidup sehari-hari serta menyebarluaskannya,” kata Sadra.

Ajaran Gandhi, lanjut Sadra, masih terus layak diterapkan. Misalnya tentang kebenaran. Banyak orang yang tidak mau mengatakan bahwa ada yang tidak benar karena takut. “Padahal kalau kita tidak mengungkapkan ketidakbenaran berarti kita mendukungnya,” ujar bapak tiga anak ini. Sadra menerapkannya sendiri di lingkungan paling kecil. Dia tidak mau menandatangani formulir Bantuan Operasional Sekolah (BOS) karena Sadra yang juga anggota Komite Sekolah di SD 1 Tenganan, Karangasem ini tahu ada praktik tidak benar dalam proses pengadaan bantuan itu.

Di tengah banyaknya bencana dan musibah di negara ini, lanjutnya Sadra, ajaran tentang Ahimsa dan Karuna sangat tepat diterapkan. “Emoh kekerasan dan cinta kasih seharusnya tak hanya pada sesama manusia tapi juga pada alam,” katanya.

Di Ashram Gandhi Candi Dasa ajaran Gandhi tidak hanya dituliskan di dinding-dinding ashram tapi juga diterapkan dalam keseharian. Misalnya pikiran tentang kesederhanaan. Pejuang kemerdekaan India itu pernah mengatakan, “Live simply so that others may simply live.” Vegetarian, salah satu hal yang dilakukan di Ashram Gandhi merupakan praktik Ahimsa sekaligus kesederhanaan itu.

Sejak ikut belajar di Ashram Gandhi Candi Dasa, Sadra memilih vegetarian. Dia tidak mau makan daging hewan. Akibatnya mantan Kepala Desa Tenganan ini sampai pernah mengalami tekanan darah rendah karena kekurangan protein hewani. Sejak 1988 dia memutuskan sekali-kali makan daging. “Di Bali agak susah juga untuk vegetarian. Sebab ritual adat juga memerlukan daging. Selain itu ketika masih vegetarian, saya justru sering menyusahkan orang lain. Kalau diundang makan malah bikin repot.” Sadra tertawa.

Menurut pria kelahiran Karangasem, 19 Mei 1951 ini, sekarang banyak orang tak mau hidup sederhana karena tak bisa membedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi. Sedangkan keinginan hanya karena ketidakmampuan diri untuk mengendalikan nafsu kesenangan. “Kita perlu contoh orang sederhana itu,” katanya. Sadra tak berteori saja, dia pun melakukannya. Dia ikut bekerja di Ashram seperti menanam tanaman obat dan membuat gantungan kunci. “Karena pekerjaan efektif untuk mengendalikan pikiran itu. Bekerja itu yoga in action,” lanjutnya.

Sadra memprihatinkan banyaknya orang yang sekarang berpakaian mewah. Hal ini pun terjadi di Bali. “Bu Gedong sampai pernah berkata, ‘Kasian perempuan Bali. Mereka kerja banting tulang hanya untuk beli bedak dan lipstik. Padahal kalau dilihat secara mendalam, kecantikan karena bedak dan lipstik itu kan palsu semua.’ Kita ini sudah menikmati kepalsuan diri sendiri,” urai Sadra yang pernah belajar tentang Gandhi selama 1,5 tahun di India ini.

Hari raya Nyepi (19/3) besok menurut Sadra adalah momentum untuk mengingatkan diri akan kesederhanaan tersebut. “Nyepi adalah waktu untuk introspeksi. Untuk melihat apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Kemudian apa yang harus kita kerjakan di waktu akan datang untuk meningkatkan hidup kita, terutama menyangkur hal-hal spiritual,” kata Sadra.

Pada saat Nyepi di Bali dikenal adanya catur brata penyepian yaitu amati lelangunan, tidak boleh berpergian. “Masalahnya kalau, tubuh kita diam tetapi pikiran kita ke mana-mana kan sama saja bohong. Weda mengatakan kita berada di mana pikiran kita berada, bukan di mana fisik kita berada,” ujar Sadra. Ada amati lelanguan berarti tidak boleh bersenang-senang. Amati geni berarti tidak menghidupkan api. “Tapi menurut saya itu berarti mematikan amarah. Bagaimana kita meredam emosi,” lanjutnya. Amati karya berarti tidak bekerja.

Di tengah kondisi bangsa yang banyak bencana dan musibah, lanjut Sadra, Nyepi bisa jadi momen untuk mengintrospeksi. “Misalnya tanah longsor dan banjir. Itu kan karena perbuatan kita. Mengacu pada Bhagwadgita apa yang terjadi adalah akibat perbuatan di masa lalu dan apa yang terjadi di masa depan adalah akibat perbuatan kita sekarang,” jelasnya.

Musibah dan bencana, menurutnya, terjadi karena manusia tidak mau hidup sederhana. Manusia hanya mengejar kesenangan duniawi. “Kita tahu bahwa itu berbahaya tapi kita tidak mau mengubahnya. Pemahaman masih sebatas intelektual, belum pada tataran perilaku. Padahal true understanding is doing. Perilaku kita masih pada fokus membuat senang tanpa memikirkan apa yang harus kita bayar untuk memenuhi kesenangan itu. Kita dikuasai konsumerisme. Apa pun yang kita lihat hanya mengarah pada kesenangan,” tuturnya.

Parahnya, pendorong konsumerisme ini punya modal besar. Mereka juga menggunakan ritual agama sebagai modal. Sadra mencontohkan upacara di kampung yang sampai menggunakan lelontek (umbul-umbul) bermerk produk tertentu. “Konsumerisme sudah masuk di agama,” ujarnya, getir. [***]

+++

Testimoni
Pak Man is Good Manager

Sebagai ashram, Ashram Gandhi Candi Dasa tak hanya jadi tempat belajar agama. Di ashram, semacam pesantren dalam Islam atau seminari dalam Kristiani, ini murid juga belajar cara bercocok tanam. Inilah yang mendorong Kawidana, 37 tahun, untuk ikut di Ashram Gandhi Candi Dasa, Karangasem.

Sejak 1995, setelah lulus dari Fakultas Pertanian Universitas Udayana Bali, pria yang akrab disapa Kawi ini bergabung dengan Ashram Gandhi Candi Dasa. Dia tertarik menerapkan pertanian organik di ashram yang didirikan Gedong Bagoes Oka tersebut. Ketika Bu Gedong meninggal pada 2002, sempat ada ketidakjelasan apakah ashram tersebut akan diteruskan atau tidak. Rapat keluarga Bu Gedong memutuskan bahwa Ashram Gandhi akan diteruskan dan diasuh I Nyoman Sadra, teman sekaligus murid senior Bu Gedong. Namun pada saat itu Kawi sudah kadung keluar dan bekerja di tempat lain.

Setelah ada kepastian bahwa Sadra yang akan mengelola Ashram Gandhi, Kawi yang pernah aktif di Forum Persaudaraan Mahasiswa Hindu Dharma (FPMHD) Bali itu ikut membantu kembali. “Tapi saya tidak bisa penuh membantu di sini,” kata bapak dua anak itu.

Kawi yang pernah belajar tentang Gandhi di India pada 1996 hingga 1997 itu kini membimbing kelas yoga. Tiap Selasa, Kamis, dan Sabtu dia membimbing yoga empat kali sehari, pagi, siang, sore, dan malam.

Menurut Kawi ada perbedaan antara pengelolaan Ashram Gandhi ketika masih diasuh Bu Gedong dengan ketika diasuh Nyoman Sadra. “Kalau Ibu (Gedong) masih ada, Ashram etrlalu Ibu oriented. Semuanya harus beliau yang menentukan. Mungkin karena beliau sekaligus pemilik, pembina, dan ketua. Jadi orang lain segan pada Ibu,” katanya. Pada saat itu Kawi merasa Bu Gedong adalah orang yang sangat tinggi.

Kini ketika diasuh Pak Man, panggilan Kawi pada Sadra, ashram lebih terbuka. “Pak Man is good manager,” kata Kawi yang istrinya juga bekerja di Ashram Gandhi sebagai ahli akupuntur. Tidak ada lagi sentralisme dalam pengelolaan Ashram Gandhi. Di sisi lain misi social service yang sejak awal diperjuangkan Bu Gedong pun masih dilakukan.

Meski demikian, lanjut Kawi, Pak Man menghadapi masalah karena sering berhadapan dengan keluarga Bu Gedong yang kurang bisa membuka untuk membuat program baru. “Sebenarnya banyak ide dan program Pak Sadra. Tapi tidak bisa dikerjakan karena tidak disetujui keluarga Bu Gedong,” lanjutnya.

Di sisi lain, menurut Kawi, Pak Sadra pun menghadapi susahnya pembagian waktu antara di desa dengan di ashram. Maksudnya bagaimana membagi waktu antara mengurus desa dengan tetek bengek upacara dan pada saat yang sama juga mengurusi Ashram Gandhi. Itu yang susah. “Tapi saya bisa memahami itu. Tiap orang Bali kan selalu punya masalah seperti itu,” katanya. [***]

Monday, March 19, 2007

Selamat Hari Raya Nyepi 1929

untuk semua yang merayakan,
Sunyi Ini Semoga Memberi Inspirasi
untuk Terus Peduli, untuk Terus Berbagi
Selamat Melaksanakan Catur Brata Penyepian.
Damai Selalu..
-bani + lode + anton-

Tuesday, March 13, 2007

Musibah Garuda itu Jadi Liputan Eksklusif Wayan

Wayan Sukarda menggelar pesta syukuran di rumahnya di Perum Nuansa Udayana Jimbaran Senin (12/3) lalu. Wayan salah satu korban kecelakaan Garuda di Yogyakarta Rabu pekan lalu. Tak hanya selamat, kontributor stasiun TV swasta Lativi dan sejumlah media TV Australia itu pun membuat liputan eksklusif kecelakaan yang menewaskan 22 orang, termasuk empat warga negara Australia tersebut.

Syukuran itu sederhana. Undangan, hampir seluruhnya wartawan teman Wayan sehari-hari liputan, duduk di kursi plastik di garasi. Makanan disajikan di teras rumah. Ada ikan bakar, ayam goreng, ayam betutu, dan tentu saja babi guling.

Wayan baru selesai datang dari Pantai Kuta untuk melukat, upacara membersihkan diri setelah mengalami kecelakaan, ketika undangan selesai makan. Masih dengan pakaian adat baju putih dan kamen biru, Wayan bercerita pada teman-temannya, ditemani bir petang itu.

Sebagai kameraman lepas untuk beberapa TV Australia, Wayan Sukarda bersedia ketika diajak meliput kegiatan Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer di Indonesia pekan lalu. Dia dikontrak stasiun TV Channel 7 selama empat hari. Hari pertama meliput di Semarang. Hari kedua dan ketiga meliput pertemuan kerja sama kontra-terorisme Indonesia-Australia di Jakarta. Hari keempat meliput kunjungan Downer di Yogyakarta untuk bertemu Sultan Hamengkubuwono X dan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin.

Namun hari terakhir liputan itu jadi musibah bagi Wayan dan 139 penumpang pesawat lain.

Menjelang pesawat mendarat, di tempat duduknya di kursi 25D, Wayan melihat cuaca Yogyakarta dari jendela pesawat. Tidak ada mendung. Langit biru. Cerah. Semua baik-baik saja. Tapi ketika roda menyentuh landasan bandara, pesawat itu terangkat lagi. Menyentuh lagi. Terangkat lagi. “Aku merasakan begitu sampai tiga kali. Saat itu saya berpikir saya pasti mati juga,” kata Wayan.

Pesawat masih bergerak, menabrak pembatas bandara, melewati parit, lalu berhenti di tengah areal kebun kacang. Wayan memegang kursi depannya. Bibirnya membentur kursi di depan. Dadanya sesak. Darah keluar dari bibirnya. Asap mengepul dari bagian depan pesawat.. Penumpang panik. Wayan melepas sabuk pengaman lalu menenteng kamera di bawahnya dengan tangan kiri. Barang bawaan penumpang di atas kursi berjatuhan.

Wayan lari ke belakang mencari pintu keluar. Empat orang di depannya sudah meloncat turun. Wayan empat ragu-ragu ketika hendak meloncat. “Tingginya sampai 1,5 meter sedangkan saya bawa kamera. Takut kalau loncat akan patah kaki saya,” kata Wayan. Tapi teriakan orang-orang di belakangnya membuat Wayan tak punya pilihan. Dia melompat turun.

Masih dengan kamera di tangan, Wayan berlari menjauhi pesawat. Dia mengambil jarak aman, sekitar 15 meter. “Karena kemungkinan pesawat itu akan meledak,” ujarnya.

Naluri Wayan sebagai wartawan bekerja. Dia menghidupkan kamera Beta Cam miliknya. Namun kamera error. Agak putus asa dia menggoyang-goyang kamera itu. Hidup. Dia pun merekam semua kejadian itu.

Dia merekam pesawat dari yang utuh hingga luluh lantak terbakar. Penumpang keluar berhamburan dari sisi kiri pintu keluar dan pintu darurat. “Saya memang di kiri pesawat ketika itu,” katanya. Lima menit kemudian, api mulai berkobar. Wayan menjauh.

Petugas berdatangan mengevakuasi korban. Ada yang bawa tandu. Ada yang bawa pemadam kebakaran. “Saya melihat orang dengan tubuh melepuh dievakuasi petugas,” lanjutnya.

Wayan beralih ke korban yang tergeletak di sawah. Tubuh korban itu berdarah-darah. Gambarnya memperlihatkan satu pramugari berteriak-teriak minta tolong. Beberapa penumpang yang tidak terluka datang mendekat dan menolong korban itu. Wayan sempat berniat ikut membantu. “Tapi saya memutuskan untuk tetap mengambil gambar saja. Itu adalah pilihan tiap wartawan dalam kondisi seperti itu,” ujarnya.

Sekitar 15 menit di lokasi kejadian, Wayan yang juga biasa bekerja untuk kantor berita Australia ABC dan Channel 10 lari ke rumah sakit Angkatan Udara yang masih satu areal dengan Bandara Adi Sucipto, lokasi kecelakaan Garuda tersebut. Dia ikut mobil petugas yang membawa korban ke rumah sakit.

Sekitar 10 menit di rumah sakit yang dipenuhi korban tersebut, indikator baterei kamera Wayan mulai berkedip-kedip. “Baterei saya habis,” katanya.

Wayan tak ingin melewatkan momen itu tanpa gambar gara-gara baterei habis. Dia telepon beberapa production house di Yogya untuk pinjam baterei. Dia telepon Multi Media Trainning Centre. Juga tidak ada hasil. “Mereka tidak punya baterei yang saya perlukan. Saya jadi pontang-panting cari baterei,” ujar Wayan. Beruntung dia bisa mendapat baterei itu dari Stasiun TVRI Yogyakarta.

Selesai mendapat gambar dari lokasi kejadian, evakuasi, hingga perawatan di rumah sakit, Wayan baru mengirim gambar itu ke kantor Channel 7 lewat kantor Telkom Kota Baru Yogyakarta. “Selesai feeding, saya baru sadar kalau saya termasuk salah satu korban,” katanya.

Liputan Wayan kemudian muncul hampir di semua TV nasional. Gambar-gambar hasil liputan Wayan jadi satu-satunya liputan paling dekat dengan kejadian itu dari sisi waktu dan jarak. Tapi kini Wayan harus beristirahat untuk memulihkan traumanya. Dadanya masih sakit. Dokter di Bali International Medical Centre (BIMC) yang memeriksanya mengatakan dia harus istirahat hingga lima minggu untuk memulihkan kondisi psikis dan fisik.

“Apa yang saya dapat (dengan gambar tersebut) tidak bisa mengembalikan beban psikis saya. Kalau bisa memilih, saya memilih tidak mengalami kecelakaan itu,” ujarnya. [***]

Sunday, March 04, 2007

Perjalanan Menantang Kematian Ketika Pulang

Perjalanan pulang dari Denpasar ke Lamongan ibarat perjalanan menantang kematian. Begitu pula ketika kembali ke Bali.

Kecemasan pertama berawal ketika bis Bali Buana Artha yang kami tumpangi baru meninggalkan terminal Ubung Denpasar Rabu pekan lalu sekitar pukul 19.30 wita. Bukan bisnya itu sendiri. Tapi ulah salah satu penumpang di kursi kanan luar sekitar tiga kursi di belakangku. Sepanjang perjalanan, dia terus saja memprovokasi supir bis. "Suroboyone, Rek," teriaknya ke sopir. Semula aku gak ngerti kenapa dia berteriak begitu. Namun dia terus saja berteriak hal yang sama. Dia mengira sopir bis itu orang Surabaya. "Isinlah. Mosok Suroboyo kok nyetire ngene," teriaknya. Aku tahu sekarang. Dia ingin supir bis itu ngebut, sesuatu yang menurut dia jadi ciri khas sopir bis dari Surabaya.

Beruntunglah. Sopir bis itu -yang orang Bali, kudengar dari bahasanya ketika ngobrol dengan dua kernet- santai saja. Jalan bis yang kami tumpangi tidak kemudian ngebut.

Namun sepanjang jalan sampai Gilimanuk, penumpang di belakang itu terus saja berteriak. Bahkan ada satu ungkapan yg bagiku sangat provokatif, "Potong saja kon***nya biar bisa ngebut."' Teriakan, umpatan, kata-kata penumpang itu membuatku terus tak nyaman sepanjang perjalanan. Untungnya entah mulai di mana, suara penumpang itu akhirnya hilang. Aku lihat ke belakang. Dia mangap2 ngorok..

Sekitar 45 menit selepas Ketapang, Banyuwangi masalah kedua muncul. Lampu depan bis mati. Semula aku tak tahu kenapa bis tiba2 berhenti lama sekali. Aku lihat sopir bis dan dua pembantunya buka kap di depan setir. Mereka narik kabel. Menyambungnya. Lampu dihidupkan. Tetap mati. "Kenapa tidak dicek ketika akan berangkat?" pikirku. Hampir satu jam berhenti dan otak-atik, lampu depan itu akhirnya hidup. Hidup sih hidup. Tapi siapa menjamin kalau lampu tidak tiba2 mati lagi, lalu bis tetap jalan, lalu ditabrak, atau nyelonong masuk laut, atau seterusnya. Kecelakaan pesawat Adam Air, tenggelamnya kapal Senapati, terbakar lalu tenggelamnya kapal Levina I, dan berita kecelakaan lain membuatku begitu takut peristiwa sama akan terjadi pada bis yang kami tumpangi. Ah, dasar parno! :))

Pukul 06 wib, bis kami sampai Bungurasih Sidoarjo. Ah, untunglah kami selamat sampai Surabaya.

Tapi tunggu dulu. Justru cerita lebih mengenaskan betapa buruknya sarana perhubungan kita baru saja mulai. Bis jurusan Bungurasih - Wilangun sangat jauh dari kenyamanan. Kursi-kursi dengan busa sobek di sana sini, lantai bis dan pintu yang berkarat, suara ngrok ngrok ketika bis berjalan sangat tidak menyenangkan. Berulangkali kriet kriet terdengar ketika bis berhenti. Mungkin rem yang berkarat dan tak layak dipakai.

Toh meski bis itu begitu tua dan berkarat, penumpangnya tak kunjung berhenti naik turun. Puluan penumpang harus berdiri sepanjang perjalanan satu jam yang sangat menakutkan itu.

Sampai di Wilangun kami berganti bis. Kali ini bis lebih kecil dengan sekitar 32 kursi. Tetap saja kondisinya tak jauh berbeda: bis tua karatan di sana sini dengan tempat duduk sempit dan jalan raya bergelombang sehingga ketika melewatinya pantat kami terangkat dari kursi.

Dua jam perjalanan itu mengingatkanku ketika aku hampir mati tenggelam karena perahu kecil yang kami tumpangi bocor di selat antara Madura dan Jawa sementara gelombang datang tak berkesudahan.

Selesai bis kecil antara Wilangun - Tanjungkodok Lamongan itu, kami berganti mobil kecil L300 yang lebih layak dijual daripada dipakai ngangkut orang. Aduh, aku sampai tak tega melihat mobil itu berjalan.

Inilah mungkin gambaran parahnya transportasi kita. Kendaraan yang sudah uzur, jalanan bergelombang, penumpang berdesakan. Semua sungguh tak menyenangkan. Dan jelas tidak aman. Tapi mau tak mau kami harus menggunakannya. Sebab, memang tidak ada pilihan. Masak mau jalan kaki dari Denpasar ke Lamongan? :))